Connect with us

headline

Ziarah Alam Minangkabau part II

Bagian 2: Ziarah ke Masa Depan

Penulis: Hazan Gozali

Mencari Bintang Zaman

Namun tiada langit malam yang tak berbintang, mungkin sekedar tertutup awan atau malam belum pekat benar. Jika hendak mencari anak-anak Minang yang berkiprah di Politik, maka tentu Pilkada dan Pemilu 2019 adalah momentum yang tepat. Pencarian bisa kita mulai dengan memeriksa Partai-partai politik yang akan berlaga di Pemilu 2019. Dideretan pengamat politik yang cukup ternama kita bisa menyebut beberapa nama seperti Ade Armando, Philipp J. Vermonte, Alfan Alfian, Deliar Noor, Effendi Ghazali, Hamdi Muluk dll. Tapi orang Minang bukan hanya pengamat politik. Penulis ingin mencari sang inisiator, sang penggerak, sang konseptor, bahkan jika bisa sekaligus Sang Pemula. Kriteria ini mungkin agak sulit ditemukan, sang kandidat haruslah kuat dalam gagasan dan juga praktek politiknya.

Dari kriteria itu penulis akhirnya hanya memasukkan dua nama, setidaknya sampai tulisan ini dipublikasikan. Kedua tokoh Minang ini adalah Fadli Zon dan Jeffrie Geovanie. Jejak gagasan kedua tokoh ini bisa dilihat dan dibaca dari buku dan karya tulis, berita maupun dari portal pribadi mereka; jeffriegeovanie.id dan fadlizon.com. Gagasan dan pemikiran yang praksis dan otentik, bisa membawa kita dalam beberapa kronik yang tidak bisa kita temukan di media massa.

Dua Bintang Minang di Langit Politik

Kita mulai dari Fadli Zon, sejak SMA dan mahasiswa sudah menunjukkan bakat kepemimpinan, organisasi dan intelektualnya. Membangun Fadli Zon Library dimana banyak literatur bisa dibaca disana, sejak mahasiswa Fadli sudah aktif di Senat Mahasiswa dan berbagai kelompok diskusi. Dia juga memimpin berbagai demonstrasi. Diluar kampus dia tercatat pernah menjadi pengurus Pusat KNPI dan Gerakan Pemuda Islam (GPI). Karir politiknya dimulai sejak mendirikan Partai Bulan Bintang (PBB) di tahun 1998 sebagai salah satu Ketua. Mengundurkan diri pada tahun 2001, Fadli Zon lalu aktif di dunia bisnis.

Aktifitas bisnis membawa pertemuannya dengan Hashim Djoyohadikusumo dan juga Prabowo Subianto diawal tahun 2007. Saat itu Prabowo sedang ikut konvensi Partai Golkar untuk menjadi Presiden. Setelah gagal dalam konvensi Golkar, maka mulailah pembicaraan pendirian partai baru dilakukan. Dengan bekal kemampuan berorganisasi, pengalaman mendirikan PBB, tentu Fadli Zon adalah orang yang sangat bisa diandalkan. Diawali dengan keluarnya Prabowo dari Golkar tahun 2007, setahun berikutnya Gerindra dideklarasikan, pekik Garuda dalam iklan televisi menjadi khas Gerindra dalam Pemilu 2009. Fadli Zon tercatat sebagai penggagas, pendiri dan sekaligus penggerak Gerindra hingga saat ini.

Ada satu tokoh politik yang menarik, namanya tidak asing di Sumatera Barat dan politik nasional. Jeffrie Geovanie, kedua orangtuanya berasal dari Payakumbuh. Sosok ini sedikit unik, selalu tidak menghendaki peran didepan, meski tawaran senantiasa datang. Sejak berkiprah di dunia politik selalu hadir dengan ide-ide segar. Disaat politisi di tanah air masih sibuk dengan bentuk yayasan dan organisasi konvensional, Jeffrie Geovanie atau lebih akran dengan panggilan JG, sudah mendirikan Amien Rais Center, Indonesia Institute dan Maarif Institute. Ide ini dianggap orisinil, kontekstual dan populer, sejak itu mulailah muncul lembaga-lembaga serupa seperti Habibie center, Megawati Center, Abdurrahman Wahid Institute dll.

Disaat demokrasi Indonesia masih sibuk dengan mobilisasi massa dan konflik dalam kampanye konvensional. JG bersama beberapa sahabatnya mulai memperkenalkan model survey dan konsultan politik. Model ini membuat lembaga survey menjamur dan kemudian menjadi salah satu instrumen penting dalam demokrasi Indonesia. Fox Indonesia adalah lembaga konsultan politik yang pertama didirikannya menjelang Pemilu 2004. Pasca Pemilu 2004, bersamaan dengan pengalaman Fox memenangkan SBY dalam Pilpres, mulailah konsultan politik dan lembaga survey bermunculan. LSI (lembaga), LSI (lingkar, SMRC, Indikator, Indo Barometer dst kini menjadi komponen penting dalam demokrasi Indonesia, khususnya elektoral.

Awal karir politiknya di PAN, lalu menjadi anggota DPR RI dari Golkar, JG juga memimpin tim pemenangan Surya Paloh dalam Munas Golkar. Meski kalah di Munas. Hubungan JG dengan Surya Paloh berlanjut, muncul dengan slogan Restorasi Indonesia, Ormas Nasional Demokrat lahir membawa deretan nama-nama besar pada tahun 2010. JG memiliki peran sentral menyiapkan Ormas, dan tentu saja menyiapkan Partai Nasdem. JG lalu mundur dari Golkar pada tahun 2012, namanya muncul sebagai salah seorang Majelis Nasional Partai Nasdem. Meski tidak pernah muncul secara resmi sebagai tokoh Nasdem, JG kini tercatat sebagai senator DPD RI dan angota MPR RI asl Sumatera Barat.

Pengalaman, intuisi dan kepercayaannya yang tinggi pada ilmu pengetahuan, membawa posisi politik JG selalu mengejutkan. Tanpa angina, tanpa hujan nama JG muncul kembali menjelang Pemilu 2019, rupanya kevakumannya dari parpol karena sedang menyiapkan sesuatu. JG disebut bersamaan dengan kemunculan anal-anak muda yang tergabung dalam Partai Solidaritas Indonesia (PSI). JG mengambil peran penting dan unik di partai baru ini, tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina. JG tentu memiliki peran sentral salam membidani lahirnya PSI. Namun JG menepis anggapan bahwa PSI akan menjadi alat politiknya untuk menuju posisi politik yang lebih tinggi. Kiprah PSI cukup memberi warna berbeda, unik dan otentik, belum pernah dipikirkan sebelumnya oleh sosok manapun. JG memang sang maestro di dunia politik, selalu misterius dan sulit ditebak.

Kiprah politik JG dan PSI, tulisan-tulisannya yang bernaas, ide-ide baru yang cemerlang, mengingatkan kita pada kiprah anak Minang di masa lalu, mereka selalu menolak menjadi koma. Selalu lahir sebagai Sang Pemula. Melalui kiprah dua anak Minang, JG bersama PSI, juga Fadli Zon bersama Gerindra kita bisa melakukan ziarah pada langit Minangkabau yang dulu menjadi tempat bintang-bintang Anak Minang bersinar terang. Hanya saja ziarah kali ini bukan hanya ke masa lalu, tapi juga memberi kita harapan pada hadirnya bintang-bintang baru, bintang anak zaman, terang berkilau di langit masa depan Alam Minangkabau.

Baca Selengkapnya
Advertisement
Loading...
Click to comment

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

#pilpres2019

Prabowo Akan Terima Apapun Hasil Pilpres Asal Berjalan Jujur

SBY Walk Out di Acara Deklarasi Damai, Ini Tanggapan Prabowo


JAKARTA – Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo – Sandiaga Uno, Pipin Sopian memastikan Prabowo akan menerima hasil Pilpres, asalkan pemilu berjalan adil dan jujur.

“Kami tentu akan menerima secara kesatria patriot semua partai politik dan termasuk Pak Prabowo. Selama jujur dan adil tidak ada kecurangan yang masif terstruktur dan sistematis,” kata Pipin dalam Diskusi MNC Trijaya yang bertajuk “Pemilu Serentak yang Menghentak”, Sabtu (20/4.

Pipin mencontohkan kasus di Malaysia cukup mencengangkan, yakni ditemukan surat suara sudah tercoblos terlebih dahulu sebelum pemungutan suara. hal iti berdampak ke dalam negeri. “Jadi kami khawatir seperti Malaysia itu adalah fenomena gunung es kemudian terjadi di seluruh Indonesia jadi kami selalu memantau pergerakan-pergerakam dari suara,” tuturnya dikutip dari okezone.

Selanjutnya, Pipin menuding ada indikasi kecurangan penghilangan angka. Seperti suara 184 dihilangkan angka 1 nya. “Sehingga pak Prabowo disebut kalah tidak menang di satu TPS itu. Dan kami melihat laporan itu banyak,” tutupnya. (aci)



Sumber

Baca Selengkapnya

#pemilu2019

Sembilan Polisi Gugur Saat Amankan Pemilu

Sembilan Polisi Gugur Saat Amankan Pemilu


JAKARTA – Kepala Biro Penerangan Masyarakat Polri Brigjen Dedi Prasetyo mengatakan, setidaknya ada sembilan anggota Polri yang meninggal dunia saat melaksanakan tugas pengamanan Pemilu 2019.

“Ada sembilan orang anggota Polri yang meninggal dunia saat tugas pengamanan TPS dan pasca penghitungan suara,” kata Brigjen Dedi saat dihubungi, Jumat (19/4).

Sembilan polisi yang gugur tersebut yakni Aiptu M. Saepudin, Bhabinkamtibmas Cilengkrang, Polsek Cileunyi, gugur karena kelelahan setelah mengawal distribusi kotak suara.

Kemudian Aiptu M. Supri, anggota Polresta Sidoarjo, gugur saat melaksanakan pengamanan di TPS 21 di Desa Bareng Krajan, Kecamatan Krian, Sidoarjo, Jawa Timur, dan AKP Suratno, Panit Subdit II
Ekonomi Ditintelkam Polda Kaltim, gugur karena sakit.

Selanjutnya Brigadir Prima Leion Nurman Sasono, anggota Polsek Cerme Polres Bondowoso, gugur karena mengalami kecelakaan menuju TPS, dan Bripka Ichwanul Muslimin, anggota Polres Lombok Tengah
Polda NTB, gugur karena kecelakaan ketika menuju salah satu polsek untuk apel kesiapan pengamanan TPS.

Tak hanya itu, Aipda Stef Pekualu, anggota Polres Kupang NTT, gugur saat tugas pengamanan Pemilu 2019. Berikutnya, Brigadir Arif Mustaqim, anggota Brimob Cikarang Polda Metro Jaya, gugur saat pengamanan Pemilu 2019, dan Brigadir Slamet Dardiri, anggota Polsek Tosari Polres Pasuruan, gugur dalam kecelakaan saat pengamanan Pemilu 2019.

Diwartakan okezone, selain itu Brigjen Syaiful Zachri, Dirbinpotmas Korbinmas Baharkam Polri, gugur akibat serangan jantung dalam tugas pasca Pemilu di Labuan Bajo, NTT. (aci)



Sumber

Baca Selengkapnya

#survei

VERSI SBLF RISET; NasDem Jawara di Sumbar I, Demokrat di Unggul Sumbar II

Surat Suara Pilkada Padang Sudah Sampai


PADANG – Hasil quick count dan rekap yang dihimpun Sumatera Barat Leadership Forum (SBLF)-sebuah lembaga riset, Pileg 17 April lalu mengantarkan dua kader Partai NasDem ke Senayan sebagai anggota DPR di Dapil Sumbar 1. Sebaliknya di Dapil Sumbar 2, Demokrat tampil sebagai juara kelas.

“Dua kader Partai NasDem tersebut adalah Lisda Endrajoni dan Fauzi Bahar,” sebut Edo Andrefson, Direktur Eksekutif SBLF kepada Singgalang, Jumat (19/4) di Padang.

Edo menekankan, hasil Pileg tersebut tidak jauh beda dengan hasil survei yang dilakukan pada Januari 2019. Dia juga menegaskan, hasil itu memang tidak berasal dari seluruh TPS, tapi setidaknya sudah menjadi gambaran. Berdasarkan pengalaman, data yang dirilis, biasanya cocok dengan hasil real count.

“Terakhir kami merilis Pilkada Padang yang dimenangkan paslon Mahyeldi-Hendri Septa, baik sebelum puncak pencoblosan maupun sesudah pencoblosan, datanya hampir sama, antara hasil survei kami dengan hasil rillnya,” terang Edo.

Masih di Sumbar 1, kursi kedua, bakal direbut PAN, dan mengantarkan kader terbaik sekaligus petahana Asli Chaidir. Kursi ketiga diraih Gerindra dan kadernya yang berpeluang besar ke Senayan adalah Andre Rosiade.

” Untuk kursi keempat, bakal jatuh ke pelukan Demokrat. Kader yang lolos, bisa petahana Darizal Basir, bisa Eka Putra. Selisih persentase kecil sehingga masih kejar-kejaran. Penentuan akhir siapa yang unggul, ya lewat penghitungan KPU,” katanya.

Golkar yang biasanya mendominasi, kali ini diperkirakan dapat kursi kelima dengan posisi kader yang berpacu antara Saidal Masfiyuddin dan Weno Aulia. Sedangkan Darul Siska, meski tipis tapi bisa saja, menyalip raihan suara Saidal dan Weno di rekap akhir.

Kursi keenam, PKS dan kembali mengantarkan petahana Hermanto ke Senayan. Kursi ketujuh, NasDem dan yang berpeluang mengisinya adalah Fauzi Bahar. Petahana Endre Saifoel bisa saja unggul setelah rekap surat suara tuntas semua.

“Menariknya kursi terakhir (kursi kedelapan). Yang bersaing justru antara PAN dan Gerindra. Sedangkan PPP dan PDI-P yang meraih kursi pada Pileg 2014, kali ini bernasib apes. Tapi ini tidak harga mati, karena kepastian itu ada setelah rekap total surat suara,” sebutnya.

Menurut dia, jika PAN unggul, maka berpeluang, Athari Gauthi Ardi. Sebaliknya, jika Gerindra unggul, maka Edriana yang berpeluang. Kalau PDI-P menyalip, maka petahana Alex Indra Lukman, kembali ke Senayan.

Untuk Sumbar II, Edo menyebutkan Demokrat tampil sebagai jawara bahkan kadernya, Mulyadi mendominasi raihan suara. Kursi kedua, juga bakal direbut petahana Ade Rizky Pratama.

“Kursi keempat diraih PKS dan mengantarkan Nevi Zuairina ke Senayan. Petahana Refrizal kalah tipis,” kata dia.

Sedangkan kursi keempat, diraih Golkar sekaligus mengantarkan petahana John Kennedy Azis kembali ke Senayan. Untuk kursi kelima, bakal direbut PAN dan kemungkinan besar Ekos Albar unggul.

Sedangkan kursi terakhir (kursi keenam) bakal diperebutkan oleh NasDem dan PPP. NasDem yang menang maka kadernya yang berpeluang adalah Hasbullah. Jika PPP yang dapat, maka petahana M. Igbal yang melenggang ke Senayan.

Untuk DPD RI, sama dengan kebanyakan hasil lembaga lain, SBLF juga memperlihatkan dua petahana hampir pasti ke Senayan yaitu Emma Yohanna dan Leonardy Harmainy. Lalu disusul Muslim M. Yatim.

“Yang agak bersaing siapa yang mengisi satu kursi lagi, karena selisih persentasenya kecil. Tapi dari SBLF, kursi keempat bakal diisi Alirman Sory. Alirman pernah jadi anggota DPD asal Sumbar periode 2009-2014,” sebut Edo. (pen)



Sumber

Baca Selengkapnya

Populer

WP Facebook Auto Publish Powered By : XYZScripts.com